ORIENTASI PENGUATAN POSYANDU DENGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN STUNTING

Foto untuk : ORIENTASI PENGUATAN POSYANDU DENGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN STUNTING
Share

NIRWANA WATERPARK – MATARAM, 
JUMAT 04 OKTOBER 2019

Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dibayangi oleh permasalahan stunting yang masih mengancam. Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan menurunkan produktifitas serta berakibat menghambat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan dimasa depan.

Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan proporsi status gizi sangat pendek dan pendek 30,8%. Dan proporsi status gizi buruk dan gizi kurang 17,7%, sedangkan hasil pemantauan status gizi tahun 2016 dilaporkan prevalensi stunting mencapai 27,5%, melebihi ambang batas WHO sebesar < 20%. Dengan kata lain 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting.

Hasil Riset Kesehatan Dasar Kabupaten Lombok Barat Tahun  2018  untuk balita usia  0-59  bulan menunjukkan bahwa lndeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) angka kurang gizi sebesar 29,94 %,  yang  artinya bahwa Kabupaten Lombok Barat   berada pada kategori wilayah rawan gizi. Indeks Berat Badan menurut Panjang Badan  (BB/PB)  atau Tinggi Badan  (BB/TB),  prevalensi Kekurusan  (sangat Kurus dan kurus)  sebesar  15,04 % yang menunjukkan bahwa Kabupaten Lombok Barat  berada pada kategori wilayah rawan.

Hasil riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3 – 1% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Oleh karena besarnya dampak dan kerugian yang akan ditanggung akibat stunting, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat berkomitmen untuk menekan angka stunting dengan berbagai program diantaranya dengan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive, yang melibatkan lintas sektor terkait.
Intervensi gizi spesifik dengan pemberian makanan tambahan untuk mengatasi KEK pada ibu hamil, TTD untuk mengatasi anemia pada ibu hamil, konsumsi garam beryodium, ASI Ekslusif sampai bayi berusia 6 bulan, imunisasi, CTPS dengan benar, pemberian ASI sampai usia 2 tahun didampingi MP ASI yang adekuat, pemberian obat cacing, Pemberian Vitamin A, Tata Laksana Gizi Buruk, Penanggulangan malaria, pencegahan dan pengobatan diare dan lainnya. Semua kegiatan intervensi gizi spesifik tersebut dapat dilaksanakan di posyandu hingga penguatan dan pengaktifan posyandu sangat diperlukan.

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2018, menyebutkan POSYANDU adalah wadah pemberdayaan masyarakat berbentuk Lembaga Kemasyarakatan Desa/Kelurahan yang DIPRAKARSAI oleh masyarakat dan DIKELOLA oleh masyarakat bersama Pemerintah Desa/Kelurahan guna memberikan kemudahan memperoleh pelayanan kesehatan masyarakat.
Posyandu aktif yaitu posyandu yang termasuk dalam strata purnama dan mandiri. Capaian posyandu aktif untuk Kabupaten Lombok Barat Tahun 2018 mencapai 88,56% dari 909 posyandu. Cakupan yang masih kurang baik disebabkan karena kurangnya kapasitas kader dalam pengelolaan posyandu. Kader posyandu yang terlatih hanya 2 – 3 orang per posyandu. Untuk itu diperlukan adanya penguatan posyandu dan peningkatan kapasitas kader dalam upaya percepatan penurunan stunting.  

Pada tanggal 24 – 27 Juli 2019 di Surabaya telah dilaksanakan Lokakarya Penguatan Posyandu dengan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan Stunting, yang merupakan kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dan Universitas Padjadjaran, sebagai rencana tindak lanjut dari kegiatan tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat melaksanakan Orientasi Penguatan Posyandu dengan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan Stunting bagi Desa Lokus Stunting Tahun 2019. Peserta orientasi yang terdiri dari Petugas Promkes Puskesmas (1 orang) ; Bidan Desa (1 orang); Kader Posyandu (2 orang) ; Aparatur Desa (1 orang) yang merupakan perwakilan dari 10 (sepuluh) desa lokus stunting yaitu :
1.     Desa Gili Gede Indah Kecamatan Sekotong
2.     Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong
3.     Desa Lembar Kecamatan Lembar
4.     Desa Mesanggok Kecamatan Gerung
5.     Desa Kuripan Kecamatan Kuripan
6.     Desa Jagaraga Kecamatan Kuripan
7.     Desa Mambalan Kecamatan Gunungsari 
8.     Desa Penimbung Kecamatan Gunungsari 
9.     Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar
10.   Desa Langko Kecamatan Lingsar

Orientasi ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan di Puskesmas, Aparat desa/kelurahan, dan Kader Posyandu dalam upaya percepatan penurunan stunting.(Promkes_Lobar/DeQ_Astie)

Sambutan