PENANGANAN KORBAN GEMPA OLEH DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK BARAT

Foto untuk : PENANGANAN KORBAN GEMPA OLEH DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK BARAT
Share

Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 29 Juli 2018 dengan magnitudo 6,4 SR telah menimbulkan korban jiwa maupun harta di wilayah Lombok Timur dan Lombok Utara. Namun demikian, getaran gempa juga terasa di wilayah Lombok Barat maupun Mataram, meskipun dampak langsung tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat. Berbagai bantuan telah dikirimkan oleh Jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat dalam bentuk bantuan tenaga medis, pelayanan kesehatan maupun logistik ke Kabupaten Lombok Utara maupun Lombok Timur.

Belum selesai masa tanggap darurat diberlakukan untuk mengatasi gempa tersebut serta trauma masyarakat belum hilang, kembali disusul dengan gempa yang lebih dahsyat dengan magnitudo 7,0 SR pada tanggal 5 Agustus 2018 tepatnya sekitar jam 19.40. Gempa ini telah memperburuk keadaan terutama di Lombok Utara dan menimbulkan dampak yang lebih luas. Akibatnya masyarakat Lombok Barat dan bahkan Mataram mengalami langsung dampak gempa tersebut, baik dalam bentuk korban jiwa, korban luka-luka maupun kerusakan bangunan. Dampak ini diperparah lagi oleh gempa yang terjadi pada hari Kamis tanggal 9 Agustus 2018 jam 13.25 dengan magnitudo 6,2 skala Richter. Di Wilayah Lombok Barat, terdapat 4 kecamatan yang merasakan dampak gempa paling parah, yaitu Kecamatan Batulayar, Gunungsari, Lingsar dan Narmada. Rincian korban kumulatif yang ditemukan maupun yang ditangani di wilayah Kabupaten Lombok Barat dari tanggal 5 – 13 Agustus 2018 adalah sebagai berikut:
•    Korban meninggal 38 orang
•    Korban luka-luka sebanyak 953 orang dengan rincian luka berat 258 orang dan 695 orang luka ringan.
•    Pasien-pasien tersebut ada yang dirujuk ke rumah sakit, dirawat inap di puskesmas maupun rawat jalan
•    Diantara pasien-pasien tersebut, jumlah pasien mengalami fraktur 30 orang dan mengalami syok sebanyak 14 orang.

Dalam rangka tanggap darurat kesehatan untuk para korban gempa bumi yang terjadi, maka pelayanan kesehatan yang diberikan di Kabupaten Lombok Barat adalah sebagai berikut:

  • Pembentukan Tim Tanggap Darurat  Pasca Bencana Alam Gempa Bumi melalui SK Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat
  • Pembentukan Posko Induk Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat yang dipusatkan di Puskesmas Gunungsari
  • Pelayanan kesehatan yang sifatnya statis, telah dilakukan sesaat sejak terjadinya gempa bumi di semua puskesmas se Kabupaten Lombok  Barat, RSUD Patut Patuh Patju, RSU Pratama Narmada Awet Muda di bantu oleh TIM  Relawan Assessment Resident Spesialis Penyakit Dalam dari RSCM. Karena sebagian gedung puskesmas mengalami kerusakan, maka pelayanan di puskesmas-puskesmas tesebut dilakukan di dalam tenda di halaman puskesmas.  
  • Untuk pelayanan yang sifatnya mobile ke titik-titik pengungsian, terutama di 4 Kecamatan terdampak gempa yang cukup parah, yaitu Kecamatan Batulayar, Gunungsari, Lingsar dan Narmada. Setiap hari diturunkan 40 tim mobile yang memberikan pelayanan ke titik-titik pengungsian. Untuk mem-back up pelayanan tersebut, telah diturunkan tim baik dari puskesmas maupun tim relawan diantaranya:
    • Tim dari puskesmas yang tidak banyak terdampak gempa (puskesmas di 6 wilayah kecamatan lainnya) di Kabupaten Lombok Barat. Masing-masing puskesmas juga saling mendukung (back up) pelayanan yang sifatnya emergency.
    • Tim dari rumah zakat.
    • Tim dari rumah sakit PHC Surabaya
    • Tim dari rumah sakit Antonius Karang Ujung
    • Tim dari Dinas Kesehatan Kota Mataram
    • Tim dari Dinas Kesehatan Probolinggo
    • Tim dari Dinas Kesehatan Sumbawa
    • Tim dari Mediccus Bandung
    • Tim relawan Bandung
    • Tim dari FK  Universitas Mataram
    • Tim dari TBM Universitas Udayana
    • Tim dari Kabupaten Ponorogo
    • Tim dari Rumah Sakit Sarjito Yogyakarta
    • Tim dari BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia)
    • Tim dokter FK  Universitas Indonesia
    • Tim Dokter Lintas Batas
    • Dokter dari Yayasan Cinta Tanah Air
    • Tim dari Riskesdas tahun 2018
    • Tim Asosiasi Bapelkes Indonesia
    • Tim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) wilayah NTB
    • Tim FK Universitas Islam Al-Azhar Mataram
    • Tim Marinir
    • Tim Rumah Sakit Muhammadiyah Jakarta
    • Tim Halo Doctor
    • Tim Ikatan Apoteker Indonesia wilayah NTB
    • Tim PAPDI RSCM UI Jakarta
    • Tim Dokter Rumah Sakit Umum Daerah Awet Muda Narmada
    • Tim IDI Cabang Lombok Barat
    • Tim Relawan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat
    • Tim dari Makassar
    • Tim ARSI
    • Tim MerC
    • Lembaga Jasa Pengembangan Konstriksi bekerja sama dengan FK UI
    • Tim Medis Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang
    • Tim Relawan Dinas Kesehatan Kabuapten Lombok Timur
  • Dilakukan distribusi bantuan logistik (air minum, mie instan, beras, nasi bungkus, makanan bayi dan balita maupun biskuit) terutama di 4 kecamatan yang paling terdampak oleh gempa, yaitu Kecamatan Batulayar, Gunungsari, Lingsar dan Narmada.
  • Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat telah berkoordinasi dengan jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat maupun Dinas Kesehatan Provinsi NTB untuk kegiatan tanggap darurat bencana.
  • Berkoordinasi dengan rumah sakit terkait dengan penanganan pasien yang perlu dirujuk.
  • Mengupayakan terpenuhinya kebutuhan logistik pelayanan kesehatan (obat maupun bahan habis pakai medis).
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat berkoordinasi dengan Dinas PUPR Kabupaten Lombok Barat untuk melakukan assessment kerusakan gedung (sarana) pelayanan kesehatan serta pendataan sarana kesehatan yang mengalami kerusakan.
  • Melakukan pendataan titik-titik pengungsian dan jumlah pengungsinya.
  • Dalam penaganan kurangnya air bersih, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan para relawan untuk memenuhi kebutuhan berupa Tandon dari :
    • Bantuan Dokter Lintas Batas berupa tandon air bersih sebanyak 9 buah tandon 1000 lt, 2 buah tandon 650 lt, 2 buah tandon 1500 ltr, 1 buah tandon 1200 ltr dan 1 buah tandon 550 ltr yang terpasang di 8 titik pengungsian.
    • 4 jamban  dan 1 unit tandon 550 ltr medas (Yayasan harapan baru Belanda).
    • 3 unit tandon 650 ltr pkm lingsar, 5 unit tandon 1200 ltr  (1 unit kantor desa selat, sdn 1 selat 3 unit, 1 unit selat timur.
    • 4 unit tandon dr dr andi bandung, 3 dompet duafa, 6 unit Jakarta, BPBD Propinsi NTB.
    • Semua air diisi menggunakan tanki air dari BPBD ataupun PDAM kecuali yang ada di Dusun Medas menggunaka air yang berasal dari mata air yang di kelola masyarakat.

  • Berkoordinasi dengan pihak-pihak lainnya untuk menjamin layanan tanggap darurat bagi korban gempa.
  • Pada tanggal 10 - 11 Agustus telah dilaksanakan pelatihan untuk trauma healing yang terdiri dari 2 angkatan dan diikuti oleh 56 peserta yang terdiri dari staf Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat maupun rumah sakit. 
  • Sementara itu untuk memback-up kebutuhan konsumsi maka telah dibuat dapur umum sebagai berikut :
    • Dapur umum Persagi (Persatuan Ahli Gizi) Kabupaten Lombok Barat dan  Provinsi NTB yang menyediakan konsumsi untuk Balita berupa MP-ASI Lokal, pengungsi dan sebagian petugas kesehatan dan relawan yang melakukan pelayanan.
    • Dapur umum Dinas Sosial Kabupaten Lombok Barat.
    • Dapur Umum IWAPI.
    • Asosiasi Bapelkes Indonesia membuka dapur yang khusus menyediakan konsumsi untuk petugas kesehatan yang melakukan pelayanan mobile.

Beberapa kendala yang dihadapi dan solusi yang diambil adalah sebagai berikut:

  • Beberapa gedung sarana pelayanan (termasuk puskesmas) mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga tidak bisa digunakan untuk memberikan pelayanan. Solusi yang diambil adalah membuka pelayanan di halaman puskesmas dengan menggunakan tenda. 
  • Puskesmas tidak memiliki tenda sehingga harus mencari pinjaman ke berbagai pihak, sementara tenda juga sudah banyak yang didroping ke wilayah Lombok Utara dan Lombok Timur untuk membantu korban gempa seminggu sebelumnya. Adanya relawan yang menyediakan tenda sangat membantu.
  • Beberapa puskesmas mengalami kehabisan bahan habis pakai medis maupun sebagian sarana sehingga solusinya meminta bantuan dari berbagai pihak. 
  • Sarana pelayanan kesehatan (puskesmas maupun rumah sakit) belum memiliki sarana pelayanan yang mobile sehingga siap digunakan untuk pelayanan diluar gedung saat kondisi darurat. Oleh karena itu perlu dukungan pemerintah pusat untuk mengadakan peralatan tersebut di kemudian hari.
  • Titik pengungsi yang sifatnya temporer (mereka yang rumahnya tidak mengalami kerusakan namun tidak berani tidur di dalam rumah) jumlahnya banyak sekali dan hanya berkumpul pada malam hari. Hal ini mengharuskan tim mobile pelayanan kesehatan harus berkunjung pada malam hari. 
  • Sampai saat ini stock obat di Instalasi Farmasi Kabupaten Lombok Barat mulai menipis, terdapat obat dengan stock kosong sebanyak 30 item obat. Namun dengan adanya obat yang masuk dari relawan maupun Dinas Kesehatan Provinsi NTB, maka stock obat sementara ini tercukupi sampai dengan awal September 2018. (By AB)

Sambutan